fbpx

Peringati Hari Ibu, STMIK Antar Bangsa Gelar Dialog Bawa Perubahan Secara Perdana

Dalam rangka memperingati hari ibu yang akan jatuh di tanggal 22 Desember, Sekolah Tinggi Manajemen Informatika dan Komputer (STMIK) Antar Bangsa gelar acara D’Baper (Dialog Bawa Perubahan) yang berlangsung secara hybird di Aula Lt.3 Gedung STMIK Antar Bangsa Tangerang dan disiarkan melalui platform Zoom Meeting pada Sabtu (18/12).

Acara yang mengangkat tajuk “Ibu Sahabat Inspirasiku” ini turut menghadirkan para istri Pimpinan Daarul Qur’an, Hj. Siti Maemunah Mansur, Hj. Mimin Mu’minat, Hj. Yenny Khairani, S.Ag., Hj. Maryati Tarmizi, M.Ag., dan Hj. Henita Sary, S.E., dalam memberikan kisah-kisah inspiratif dan semangat kepada mahasiswa STMIK Antar Bangsa. Tidak hanya itu, acara yang berlangsung hingga siang hari itu dipandu oleh ibu Kusuma Hati, M.M., M.Kom (Wakil Ketua I Bidang Akademik STMIK Antar Bangsa), Bapak Muhammad Hilmi Rachamatullah, S. Ikom., (Kepala Marketing), dan Robiah Al-Adawiyah.

Kegiatan yang menjadi salah satu rangkaian dari program Gebyar Antar Bangsa ini turut dihadiri oleh seluruh mahasiswa-mahasiswi STMIK Antar Bangsa baik secara offline atau online. Hadir pula mahasiswa dari luar negeri, seperti dari New Zealand dan Taiwan.

Pada kesempatan itu, Hj. Yenny Khairani, S.Ag., mengungkapkan bahwa ibu tidak hanya sebagai orang tua, namun banyak peran penting yang bisa dilakukan oleh seorang ibu dalam mendidik dan membina anak.

Apa yang dirasa senang oleh seorang ibu itu pasti semua orang rasa, baik rasa senang, rasa sedih, semua rasa dialami oleh seorang ibu. Arti ibu itu tidak hanya dia sebagai seorang pendidik, dia juga sebagai sahabat, karena untuk menjadi ibu itu tidak mudah. Memaknai seorang ibu itu tidak bisa digambarkan dengan kata-kata, karena mencakup semua kehidupan anak di rumah atau di luar rumah, peran ibu itu sangat penting sekali,” ujar ia dalam pemaparannya.

Lebih lanjutnya, istri dari Kyai Jamil itu menambahkan bahwa sifat ego yang terkadang timbul dari seorang ibu dapat mengakibatkan kesalahan dalam mendidik anak.

“Kadang kita sebagai seorang ibu merasa benar, yang sering menjadi kesalahan dalam mendidik. Kita udah merasa benar dalam mendidik, mendampingi anak-anak, disitulah kadang kita kesalahan itu ada. Apabila kita merasa salah pada saat mendidik, mendampingi anak, kita disadarkan oleh Allah bahwa kita itu salah,lanjutnya.

Pada kesempatan yang sama Hj. Mimin Mu’minat, istri dari Kyai Kosasih itu menjelaskan mengenai arti dari seorang  ibu. Menurutnya, ibu itu adalah sebaik-baik perangai yang dapat mencintai anak tanpa mengenal waktu dan tempat.

“Jadi seorang ibu adalah orang yang telah diberikan oleh Allah yang sebaik-baiknya, yaitu perasaan suka dan kasih sayang terhadap anaknya yang cintanya itu seperti udara, udara yang kita hirup dari Allah setiap saat itu gratis. Cintanya itu murni,” tutur ustadzah Mimin.

Tambahnya, ia berpesan agar setiap ibu dapat mengambil hikmah dari apa yang telah Rasulullah ajarkan dalam mendidik para generasi mulia.

“Kita harus bisa mencetak anak kita, bagaimana menjadi orang yang dipenuhi jiwanya, dadanya oleh iman kepada Allah yaitu kita harus ngambil inspirasi dari orang-orang yang mulia,” tambahnya.

Sementara itu, istri dari Kyai Yusuf Mansur turut hadir serta memberikan pemaparannya. Melalui peringatan hari ibu, ia mengingatkan kepada kita semua tentang pentingnya peran perempuan dalam keluarga dan sumbangsihnya terhadap mencetak generasi bangsa, hingga perannya tak mampu dibalaskan oleh hal apapun.

“Mulai hari ini kita mencoba lebih mendekatkan diri, mendekatkan hati kita kepada ibu kita. Kalo ada pertanyaan yang menyinggung perasaan kita sebaiknya diam aja, gak usah ngejawab, dan tidak usah menunjukan wajah kecewa, wajah marah. Bagaimana pun beliau adalah orang yang paling berjasa bagi kita sampai kapanpun. Bahkan kita gak akan pernah bisa membalasnya walaupun kita memberikan kesenangan. Kita tidak akan bisa membalas kebaikan orang tua kita,” ucapnya saat menyampaikan pemaparan di acara DBaper.

Lebih lanjutnya, ibu dari lima orang anak itu berpesan agar setiap orang tua tidak hanya menciptakan anak yang sholih dan sholihah, namun kedekatan dan keakraban di antara keluarga mesti dibangun oleh orang tua sejak dini.

“Dan jangan lupa bentengi anak-anak kita juga jangan hanya menjadi anak-anak sholih dan sholihah, kalo bisa ditambahkan agar supaya anak-anaknya ini akur sampai akhir hayatnya. Jangan sampai saat kecilnya akur, tapi udah besar banyak kejadian-kejadian seperti itu. Itu yang kita tambahkan kepada anak-anak kita,” pesan ibu dari Wirda Mansur itu.

Kemudian istri dari Ustadz Anwar Sani turut serta memberikan pemaparannya pada acara D’Baper. Ibu dari dua anak itu mengingatkan kepada kita semua tentang bagaimana seorang anak dapat memperlakukan orang tuanya dengan baik. Dengan hal itu kelak ia akan diperlakukan oleh anaknya.

“Kalo kita mau diperlakukan baik, perlakukan orang itu dengan baik. Jadi saya menerapkan diri saya ke mamah, jadi saya berpikir kalo saya nanti sudah tua, saya harus diperlakukan seperti apa oleh anak saya, itu yang selalu saya lakukan kepada mamah. Jadi jangan celain, jangan marah-marah. Kalo kita memperlakukan mamah seperti itu, insya Allah anak kita memperlakukan kita seperti itu juga,” terang ustadzah Heni Sary.

Pada kesempatan yang sama, istri dari Ketua STMIK Antar Bangsa, ustadzah Maryati turut memberikan pemaparannya. Melalui peringatan hari ibu, ia mengingatkan kepada kita semua tentang pentingnya peran ibu dalam mendidik anak melalui penanaman nilai-nilai karakter dan budi pekerti, di mana ibu adalah sebagai suri teladan bagi anak-anak.

“Bagaimana untuk menjadi seorang anak itu kan memang dalam dunia pendidikan itu harus yang pertama adalah keluarga. Yang pertama dan utama di dalam pendidikan anak adalah keluarga. Jadi keluarga itu mengajarkan bagaimana iman dan tauhid serta mengajarkan kepada anak-anak untuk senantiasa bertaqwa kepada Allah,” ucapnya.

Menurut ibu dengan dua anak itu, apabila setiap anak sudah ditanamkan nilai-nilai agama, maka ia akan mampu menjalankan perintah-perintah Allah dengan baik.

“Jadi kalo anak kita sudah kita kenalkan mengenai taqwa itu sendiri, insya Allah di manapun ia berada, mereka akan bisa menjaga hal-hal seperti itu. Mereka akan senatiasa taat menjaga perintah Allah tanpa harus diperintah oleh orang tuanya. Kemudian, bahwa kita itu tidak bisa menguasai orang lain, tetapi bagaimana diri kita ini bisa mengusai diri kita sendiri. Jadi jangan sampai kita memperlakukan orang lain karena kita tidak suka kemudian kita memperlakukannya dengan semena-mena,” terangnya.

Tidak hanya itu, ia berpesan juga kepada kita semua agar setiap keluarga dapat menanamkan rasa sabar dan lemah lembut kepada setiap anak.

“Di dalam keluarga itu juga harus ditanamkan sifat sabar, di mana kalo sudah ada rasa kesabaran baik dari orang tua kemudian dicontohkan kepada anak, maka anak justru akan menjalankannya. Rasa kesabaran, kemudian juga kelemahlembutan, dan kemudian menolak kejahatan dengan kebaikan. Jadi kalo anak  sudah kita tanamkan seperti itu, di manapun dan kapanpun dia menerima peristiwa yang tidak mengenakan, tetapi ketika dia sudah diajarkan balaslah kejahatan dengan kebaikan maka itu yang harus terus dikerjakan,” tutup ustadzah Maryati.

Acara itu semakin meriah ketika Daqu Stik tampil menyajikan sebuah lagu Daarul Qur’an. Tidak hanya itu, berbagai pertanyaan turut ditanyakan oleh masing-masing mahasiswa mengenai peran ibu dan anak yang saling melengkapi.