fbpx

Rasa Sabar dan Syukur Mengantar Dina Menjemput Mimpinya

Hidup jauh dari tanah kelahiran tidak membuat Ai Dina Dianati Safari (25) patah semangat dalam mengejar cita-citanya yang ingin menjadi pengajar. Berbekal keyakinan yang tinggi pada Allah swt, Ai mengiringi tahapan kehidupannya dengan rasa sabar dan syukur.

Perempuan kelahiran Tasikmalaya, Jawa Barat dan penyuka bulutangkis ini sejak awal ingin menjadi pengajar. Tapi jalan hidup membuatnya harus bekerja dulu semenjak lulus SMU demi memenuhi kebutuhan hidupnya. Awalnya ia bekerja di restoran cepat saji selama beberapa tahun. Namun itu semua ditinggalkan karena sulitnya untuk menjalankan sholat tepat pada waktunya.

“Awalnya aku bekerja di resto cepat saji kak selama beberapa tahun,tapi disini susah untuk solat sampai akhirnya aku ga kuat sama lingkungan kerjaan yang gak ada ibadahnya sama sekali. Aku bismillah-in aja deh,semua karena Allah kak aku keluar”

Keputusan untuk keluar dari pekerjaannya ini Dina ambil berbekal nasihat dari KH Yusuf Mansur yang pernah dibacanya yakni, Allah dulu, Allah lagi, Allah terus.

“Kata-kata itu jadi penyemangat aku disaat aku lagi down kak” tambahnya.

Ia mengaku sempat ragu untuk keluar dari pekerjannya tersebut. Karena dari penghasilannya ia bisa mengirimkan sejumlah uang ke kampung untuk kedua orangtuanya. Praktis semenjak ia melepas pekerjaannya tersebut ia tidak bisa mengirimkan uang untuk kedua orang tuanya di kampung.

Lepas dari restoran cepat saji ia mendapat tawaran untuk mengajar di Taman Pendidikan Quran (TPQ) dan di Pendidikan Anak Usia Dini (PAUD) di waktu yang bersamaan.

“Selama ga bekerja, aku ga pernah ngirimin uang ke orang tua di Tasik Kak,waktu kerja di TPQ sama PAUD kan cuma cukup untuk aku aja. Tapi Alhamdulillah sekarang semua udah normal lagi kak, aku bisa rutin kirim ke Ama-Apa di Tasik” ujarnya sambil meneteskan air mata.

 

Kini Dina tengah menyelesaikan pendidikan strata satunya di Sekolah Tinggi Manajemen Informatika dan Komputer (STMIK) Antar Bangsa. Ia pun mengaku bersyukur bisa masuk ke STMIK Antar Bangsa, karena selain belajar ilmu pengetahuan ia juga bisa menguatkan iman dan ketakwaannya lewat sejumlah program keagamaan seperti tahfiz Qur’an yang didapatkan.

“Selain itu lewat Daqu Method di sini kami juga bisa tetap salat tepat waktu dan juga ditambah dengan ibadah sunah seperti salat duha, tahajud dan lainnya” ujar Dina.

Dari kisah Dina kita belajar sesungguhnya kesedihan, kegembiraan, kekecewaan, keriangan, hanyalah sementara. Sebagaimana sesaatnya malam ditelan siang. Tak selamanya kesedihan dan kegembiraan melanda. Semua datang silih berganti, tanpa dapat selalu dinanti.

by: Muhammad Hilmy

Artikel ini sudah dimuat di : https://kumparan.com/cerita-santri/rasa-sabar-dan-syukur-mengantar-dina-menjemput-mimpinya-1tyCsClOqhj/full

Leave a Reply